7 Kekeliruan Ketika Takbiran

7 Kekeliruan Ketika Takbiran
blog.rahmatullah.id

Saya coba mengamati lafadz-lafadz takbir yang dikumandangkan oleh para jama'ah, baik di masjid, di mushalla dan tempat lainnya.

Setidaknya ada 7 Kekeliruan Ketika Takbiran yang terdengar dan harusnya menjadi perhatian, yaitu :

Lafadz "Allah" pada Takbir:

(اللّهُ أَكْبَرُ اللّهُ أَكْبَرُ)

Di panjangkan alifnya, sehingga bacaannya seperti "AAllah/ آللهُ".

Lafadz seperti ini sudah merubah makna dari seharusnya pernyataan bahwa "Allah itu adalah Mahabesar" menjadi pertanyaan "Apakah Allah itu Mahabesar"?

Lafadz Takbir I:

(اللّهُ أَكْبَرُ اللّهُ أَكْبَرُ)

Berhenti pada lafadz "Akbar" pertama namun tidak mengambil nafas, sehingga seakan-akan disitu ada hukum saktah, padahal tidak ada hukum saktahnya.

Semestinya kalau dimatikan pada lafadz "Akbar" pertama maka diputuskan nafas secara sempurna baru kemudian dilanjutkan dengan lafadz takbir kedua. Namun jika dilanjutkan tanpa berhenti maka huruf "ر" nya harus diberikan baris "رُ", sehingga bacaannya bersambung dengan lafadz "Allah", kemudian dibaca dengan "Allahu Akbarullahu Akbar".

Lafadz Takbir II:

(اللّهُ أَكْبَرُ اللّهُ أَكْبَرُ)

Dijadikan qalqalah (memantul) ketika mematikan huruf "ك" pada lafadz "أَكْبَرُ", sehingga bacaannya menjadi "Akebar". Padahal huruf "ك" sifatnya bukan termasuk qalqalah (memantul) melainkan sifatnya hams (mengalirnya nafas)

Lafadz Takbir III :

(اللّهُ أَكْبَرُ اللّهُ أَكْبَرُ)

Dibaca "aek" Ketika mematikan huruf "ك" pada lafadz "أَكْبَرُ", sehingga bacaannya menjadi "Aekbar".

Lafadz Takbir IV:

(اللّهُ أَكْبَرُ اللّهُ أَكْبَرُ)

Dibaca panjang huruf "ب" pada lafadz "أَكْبَرُ", sehingga bacaannya menjadi "Akbaar/أَكْبَارُ ", padahal tidak ada tambahan "Alif" pada huruf "ب".

Lafadz:

( اللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الحَمْدُ)

Berhenti pada lafadz "Akbar" namun tidak mengambil nafas, sehingga seakan-akan ada hukum saktah, seperti nomor urut satu, padahal tidak ada hukum saktahnya. Semestinya kalau dimatikan pada lafadz "Akbar" maka diputuskan nafas secara sempurna baru kemudian dilanjutkan dengan lafadz "walillahil hamd/ وَلِلّهِ الحَمْدُ".

Namun jika dilanjutkan tanpa berhenti mengambil nafas maka huruf "ر" nya harus diberikan baris "رُ", sehingga bacaannya bersambung dengan lafadz "walillahil hamd/ وَلِلّهِ الحَمْدُ" menjadi "Allahu Akbaru walillahil hamd".

Lafadz:

( وَلِلّهِ الحَمْدُ)

Dibaca dengan "walillah ilhamd/ وَلِلّهْ إِلحَمْدُ". Semestinya dibaca dengan "walillahilhamd/ وَلِلّهِ الحَمْدُ".

 

Demikianlah beberapa kekeliruan dalam lafadz takbiran yang sempat terdengar, mungkin saja ada penambahan-penambahan, khususnya dari segi makharijul huruf, karena untuk menilai makharijul huruf benar atau keliru maka harus melihat mulut yang melafadzkannya, tidak cukup sekedar pendengaran saja.

Wallahu 'alam.

Semoga Allah selalu membimbing kita, amin...

--------
Penulis
 
Ibnu Selian 

0 Komentar